Tuesday, December 11, 2018

Cerpen Remaja Karena mu bang Suga ( Part 2)

Entahlah !! masih ada lanjutan nya atau tidak. 

The Conscious

Aku yang mulai lelah di pengunjung hari, berusaha melepas segala harapan tabu ku akan diri pemuda yang selalu menyita atensi ku, sosok pemuda dengan mata kecil nya yang sukses membuat hari-hari ku berwarna. Pemuda yang menjadi satu-satunya alasan untuk ku bertingkah layaknya seorang gadis. Mengenakan High hill, wewangian bunga, pewarna kuku, setelan dress panjang dan masih banyak hal feminim lainnya. Namun apalah daya ku, yang hanya gadis biasa, manusia pada umumnya, yang memiliki titik jenuh dan keputus asaan. Tak mampu menunggu lebih lama lagi sekedar menanti secercah harapan untuk ku menggengam nya menjadi milikku sepenuhnya. Hingga di akhir nya, aku melangkah maju meninggalkan nya, membuka hatiku demi sebuah lembaran baru di masa depan. Menerima seseorang yang ku harapkan mampu menjadi penopang ku ketika diri ku lelah dirajai hari. Tapi lagi lagi segala kenyataan tak sesuai yang ku harapkan, ketika tangan tuhan, menempatkan ku pada posisi terjepit. Di saat aku mulai bangkit, dia kembali hadir dalam hidupku. 

"Rahma!!! Disini juga?? “
Aku terperanjat lalu menoleh, kulihat abang Suga berada di belakang ku, dengan penampilan kasual nya yang sekali lagi membuat ku terpana,Bang Suga mengenakan kaos hitam polos berkerah V dengan jaket Varsity yang melapisi nya serta dipadukan dengan celana jeans puntung hingga di lutut nya, penampilan yang simpel tapi masih menunjukkan aura menawan dari nya, tak lupa pula ia mengenakan sendal jemput eiger yang membuat penampilan terlihat boyish, padahal umurnya dua puluhan lebih.
" eh Bang Agus " respon ku namun aku segera menutup mulut ku, ya Astaga, aku keceplosan, efek dari keseringan nya aku membahas Bang Suga sama Tima, aku selalu mengkamuflase nama Bang Suga menjadi Bang Agus, membalik huruf nya dari belakang ke depan. Akhirnya, Begini jadinya, keceplosan.
" belanja??" Tanya nya padaku. aku bisa bernafas lega, dia tidak menyadari kalau aku salah menyebut nama
" eh...eum tidak juga , hanya beli ikan" aku menjawab gagap. Dia merespon dengan berdehem " abang beli apa disini? " aku memberanikan diri bertanya, usaha, agar percakapan ini tidak putus
" beli jarum sepatu" jawab nya singkat
" untuk jahit sepatu?" Tanya ku basa basi
" untuk jahit mulutnya orang yang nanya bodo bodo, dimana - dimana jarum sepatu untuk jahit sepatu"
Aku menunduk sambil cengengesan, mengiyakan ucapan Bang Suga, tipikal Bang Suga yang tidak bisa hilang, omongannya pedis, belum lagi kepribadian nya yang susah ditebak, tadinya ramah, tapi tiba-tiba bisa berubah drastis layaknya mafia underground yang gemar mengeluarkan umpatan kasar, aku mulai berfikir, untuk memasukkan nama Bang Suga di mata kuliah Kejahatan Internasional sebagai daftar penjahat paling berpengaruh di dunia.
Ngomong - ngomong aku baru sadar, ini pertama kalinya aku bertemu bang Suga di luar kampus, dan ya Tuhan, penampilan ku benar benar berantakan kali ini, aku mengumpat diri ku dalam hati yang begitu bodoh nya mengenakan kaos kampanye keluar rumah. Ini baju nya bapaaak.... yagusti >_<, kaos partai PDIP jaman bapak masih jadi pegawai rendah. Aku suka kaos ini, warna nya hitam, jarang kaos kampanye warna hitam merah begini . Tapi seandainya tau akan ketemu Bang Suga mana mungkin berani aku pake kaos ini, aku lebih PD pake kaos Darbost >_<, belum lagi ukurannya yang kedodoran ditubuh ku ,di tambah lagi ada gambar sablon kepala banteng besar dibagian dada . Aku pun mengenakan celana tidur doraemon yang ku pakai semalam, serta sendal jepit Carvil kulit warna coklat yang juga kebesaran dikaki ku, perlu digaris bawahi, ini sandal jepit nya bapak kalo pergi sholat Jum'at dimasjid , dan yang lebih parah nya lagi, aku tak memakai jilbab, kurang mampus apalagi coba bung, dengan percaya dirinya aku mengekspose rambut exotic ku yang lebih mirip sarang burung walet. Hamba malu ya rabb, takut Bang Suga ilfil padaku , Bang Suga penampilan biasa saja tetap ganteng, sedangkan aku lebih mirip pembungkus nasi sterofom yang mangkrak di sudut bangku terminal kereta api T_T. Aku ingin lari menghindari tapi bang Sungai malah menawariku pulang bersama
" tapi aku bawa motor sendiri bang" aku mengelak tawaran nya dengan sesopan mungkin
" ya sudah, klo gitu jalan bareng sampe parkiran"
Aku cuma bisa menganguk kikuk, kehabisan akal untuk bisa menghindari Bang Suga, sampai parkiran, sampai disitu saja kok, lg pula rumah ku beda arah dengan rumah nya.
Ketika sampai parkiran, abang Suga terkikik sambil menutup mulutnya, aku menoleh heran melihat tingkah nya
" itu gimana bawa nya?" ujarnya ketika tau aku bawa motor besar, aku baru ingat, aku bawa motor nya bapak ke pasar, motor ku dibawa arisan mama.
" tangan satu" ucap ku seenaknya, tapi terus terang aku kesulitan
" ya enggak bisa, itu motor koplen Ma"
"aku enggak kepikiran bawa keranjang belanja"
" sekalipun bawa keranjang, mau taruh mana,? di stang? Enggak mungkin, kecuali kamu bawa temen untuk megangin"
Aku terdiam, kenapa aku bodo sih, bodo depan nya Bang Suga lagi, malu lagi kan? Muka taroh mana Yarobi . Alih alih mau keliatan keren bawa motor gede, yang ada justru keliatan bego mendadak
" sini abang yang bawa kantong ikan nya"
"hah, enggak perlu bang, aku gantung aja di subreker" shit!! ngomong opo to aku iki
“motor abang matic, ada gantungan nya di depan "
" tapi air ikan nya netes bang nanti motor nya abang amis"
" kan bisa di cuci"
"tapi ngerepotin bang"
"enggak apa-apa" Bang Suga merebut kantong ikan belanjaanku dari tangan ku
Kalau masalah adu argumen atau debat apapun itu, ngeyel - ngeyelan sekalipun macam ini, aku akan tetap kalah kalo sama Bang Suga. Ujungnya aku hanya nurut, ngikutin segala komando nya.
Sepanjang jalan yang ku dengar Bang Suga terus tertawa terbahak bahak , dia naik motor mengikuti ku dari belakang.
"itu kalo ada lobang minggir Ma" teriak nya sambil tertawa " jangan di labrak begitu saja" abang Suga menertawakan gaya ku mengendarai motor, sekedar informasi, aku pernah mengalami kecelakaan hebat ketika naik motor, hingga menyisakan trauma mendalam, aku selalu kagok kalau berkendara, aku masih takut nyelip kendaraan lain, alhasil kalau mengendarai motor, aku lurus terus, enggak perduli ada lobang, aku tabrak saja, aku takut ambil jalur nya orang demi menghindari jalanan jelek. Tapi tentu saja Bang Suga tidak tau itu, makanya dia  terus menertawai ku. Tanpa  tau dia, aku sebenarnya malu teramat sangat
Bang Suga mengikuti ku sampai depan rumah, dia menyodorkan kantung ikan ku. Aku bisa liat mukanya memerah layaknya udang rebus, efek terlalu banyak tertawa. Tapi justru membuat tampang Bang Suga terlihat unyu, ingin rasanya aku bawa masuk dalam rumah, ku pajang dalam kamar, kupandangi setiap malam atau kujadikan gantungan kunci motor ku agar aku bisa membawanya kemana mana. Ya Allah, kok ada ya makhluk yang ganteng nya tidak ada habis - habis nya.  Seketika aku tidak ingat bagaimana caraku melupakan nya "
" yodah, abang pulang dulu" ujarnya sambil memutar setir motor nya
"makasih bang!" aku menyaut nya, dia mengangguk, lalu tancap gas
" jangan ngebut bang, aku masih sayang kamu T_T" batin ku, sambil menyentuh dada ku sendiri
hah, entah lah ada apa dengan hari ini, hari yang tak pernah terprediksi di otak ku, tiba-tiba bertemu Bang Suga. Aku senang sebenarnya, karena jauh dilubuk hatiku aku merindukanmu eksistensi nya di hari-hari ku. Tapi aku tak bisa memungkiri, aku malu, karena hanya hal hal bodo yang terlihat dariku ketika bersama nya tadi.
Aku meremat rambut ku, mengehentak-hentakan kaki ku lalu berlari masuk dalam rumah.
...................................................................................................................................................................................
Sejak pertemuan ku dengan abang Suga tempo hari di pasar, aku lebih sering melihat Bang Suga menyambangi kantin, entah tujuan apa, setau ku Bang Suga adalah penghuni setia gazebo depan secret, bersama laptop kesayangan nya atau teman teman seangkatan nya yang memiliki otak berideologi tinggi. Aku selalu menepis rasa percaya diri ku setiap kali aku menangkap basah Bang Suga tengah menatap ku dari tempat duduk nya. Aku selalu meyakinkan diriku, bukan aku satu-satunya objek yang ditangkap oleh penglihatan nya. Aku kadang mengabaikan nya dengan kembali berkutat dilaptop ku sekedar menyelesaikan tugas kuliah ku atau berjelajah di dunia maya dengan modal membobol Wi-Fi kampus yang memiliki kecepatan 957kb/s. Sudah beberapa hari aku menghabiskan kegiatan ku di kantin ini sendirian, biasanya ada Tima bersama ku yang selalu meramaikan suasana dengan tingkah nya yang seperti angin topan, tapi minggu lalu, dia pamit padaku ke luar daerah untuk menjalani praktek lapangan selama satu bulan. Aku merasa hari ku begitu lenggang, aku suka suasana seperti ini tapi aku tak bisa memungkiri, aku merindukan Tima yang selalu mengacaukan setiap detik dihari hariku.
Kembali ke pembahasan awal, tentang Bang Suga yang tiba-tiba sering bermigrasi ke kantin dengan memboyong teman temannya. mereka bertujuh , entah apa yang diobrolkan mereka, terlihat begitu seru dan riuh, sesekali ada yang tertawa sambil menggelengkan kepala nya, aku juga sering melihat bagaimana abang Suga tertawa lebar hingga membuat mata nya semakin menyipit. Namun kadang dengan tiba-tiba Bang Suga melemparkan pandangannya ke arah ku yang berada beberapa meter darinya. Dan membuat ku salah tingkah, jika sudah begitu,dengan santai nya dia kembali membuang muka. Lagi lagi tingkah abstrak Bang Suga yang selalu nampak darinya, membuat ku sulit menerjemahkan nya, dan berakhir dengan aku yang menghela nafas ku dengan lemah. 
.....................................................................................................................................................................
Hari ini, aku sengaja datang terlambat ke kantin dari biasanya, ku edarkan pandangan ku seantero kantin, aku tak mendapati sosok Bang Suga yang menurutku jam begini adalah jam makan siang nya bersama teman-teman nya.
" cari siapa?" aku terperanjat, suara yang tak asing ditangkap indra pendengaran ku muncul dari balik punggung ku, itu Bang Suga. Aku hendak menoleh kebelakang tapi bang Suga keburu berdiri di samping ku, ia menggedikan dagunya ke dalam kantin, mengisyaratkan ku untuk masuk, aku membalas nya dengan anggukan, membiarkan Bang Suga berjalan mendahului ku, aku berjalan mengikuti nya, dari belakang aku memindai postur Bang Suga. Penampilan nya berbeda saat ini. Aku kenal betul bagaimana penampilan abang Suga tiap ke kampus, dia selalu tampil formal dan modis, tampilan nya santai tapi berwibawa. Selama ini dia selalu mengenakan celana kain yang tampak begitu lurus menyelimuti kaki panjang nya, serta kemaja dengan berbagai motif sebagai paduan nya, mulai dari motif batik, kotak kotak atau kemeja dengan paduan degradasi warna. Rambutnya selalu dia semir berbagai warna, mulai warna terang hingga gelap, segala warna sudah dicoba nya. Bang Suga tipe cowok yang fashionable sebenarnya, biarpun penampilan nya selama ini cenderung resmi dan kantoran tapi dia pandai memadu gaya hingga tampilan nya tak terlihat tua dan membosankan. Alasan dia berpenampilan formal adalah karena otoritas kampus, semua fakultas wajib mengenakan kemeja dan celana kain, kecuali fakultas Teknik, fakultas dengan otoritas terkuat disepanjang ranah perkampusan, satu satunya fakultas yang tak mau menghilangkan identitas legenda mereka, baju hitam dan sendal jepit swallow, ok ini berlebihan. Aku sendiri belum pernah terlalu dekat dengan anak-anak teknik, aku takut, penampilan nya lebih mirip tokoh tokoh sinema Mahabarata. Gondrong.
Kembali ke Bang Suga, penampilan nya berbeda drastis seperti biasanya. Dia mengenakan celana jeans skinny warna hitam dengan robek di lutut nya, dan membiarkan lutut kurus nya terekspose sempurna, aku baru sadar, selain panjang, kaki Bang Suga tampak kurus, celana jeans ini benar-benar membalut ketat jenjang kaki nya. Ia pun mengenakan kaos Supreme berwarna kuning serta dilapisi bomber warna hijau Army. Aku tau alasannya berpenampilan seperti ini, dia sudah tidak punya jadwal mata kuliah, dia tengah sibuk menyusun skripsi, membuat nya harus bolak balik masuk perpustakaan. Mungkin ini salah satu alasan untuk nya berpenampilan kasual dikampus. Belum lagi, ia mulai menyemir rambutnya dengan warna hitam, mungkin karena mau ujian akhir, fikir ku.
" sudah makan??" tanya nya ketika sampai di kursi yang dituju nya, aku membalas nya dengan menggeleng , dia berdehem, maksudnya apa coba, aku mungkin yang terlalu percaya diri jika berfikir abang Suga akan menawari ku makan siang bersama, aku menghela nafas ku, lalu beranjak dari sisinya menuju ke deretan bangku lain, namun Bang Suga mencekal pergelangan tanganku, dia menggedikan dagunya ke bangku yang dituju nya, aku menuruti nya, ku sampirkan tas ku di sebelah ku, abang Suga duduk dihadapan ku dengan meja sebagai pembatas nya. Dia memesan beberapa makanan sebelum ia memulai topik pembicaraan
"teman mu itu siapa namanya??" Abang Suga membuka percakapan sambil menyandarkan punggung tipis nya pada sandaran kursi
"teman yang mana ya bang??" aku mengerutkan kening ku
" teman yang sering jalan sama kamu, tapi bukan anak Fisip"
" oh Tima...!! Fatima namanya" ujar ku sambil mengulas senyum menyembunyikan kegusaran dalam hatiku " ada apa ya Bang?" aku menelan ludah ku, segala kekhawatiran ku berkecamuk dalam otak ku, kepalaku dipenuhi dengan segala spekulasi buruk akan apa yang sebenarnya telah dilakukan Tima hingga membuat Abang Suga rela membuang waktu nya demi membahas dia, Abang Suga tipe orang yang tak akan membahas hal hal yang dirasa ya kurang penting. Aku menunduk, merapalkan segala doa yang mungkin saja bisa menolong ku dari hal-hal buruk, aku khawatir jika Tima melakukan sesuatu yang tak menyenangkan pada Abang Suga, mungkin menyinggung atau melecehkan. Tima terkenal dengan sifat yang blak blakan, asal ngomong tidak perduli fikiran orang, kadang juga nyeleneh, dan bertingkah tanpa berfikir lebih dahulu. Dari balik wajah ku yang tertunduk, aku melihat Abang Suga berjengit dari posisi nya, ia mencondongkan tubuhnya kearah ku dengan perlahan, aku bisa merasakan aroma pasta gigi, wax serta parfum nya menyeruak mendekati ku, menabrak indra penciuman ku. Kuberanikan diri mendongak, aku nyaris terjengkang karena kaget jika saja pengendalian diri ku kurang baik, bagaimana tidak, wajah abang Suga terlampau dekat dengan ku, menatap ku tajam, belum lagi dengan seringai menyesatkan yang terukir di bibir nya nyaris membuat ku limbung dan tak sadar kan diri. Apa yang dilakukan nya ya Tuhan, ini tempat umum,tubuh ku membeku tak ada yang dapat kulakukan selain memundurkan tubuhku beberapa senti dari hadapan nya, sekedar menambah jarak antara aku dengan nya, demi tuhan, mungkin saja beberapa pasang mata tengah menatap pada kami. Hingga akhirnya dia kembali pada posisi duduk nya, namun dengan dagu yang ia topang dengan telapak tangan yang ia tumpu di atas meja, masih dengan tatapan yang tak lepas dariku. Aku semakin salah tingkah di buat nya, kenapa setelah menanyakan Tima, tingkah Bang Suga mendadak aneh seperti ini.
" dia ceritakan semua sama abang" ujar bang Suga sambil menaikkan salah satu alis nya
Aku kembali menelan ludah ku, ada apalagi ya Tuhan, apa yang Tima ceritakan pada Abang Suga, lagi lagi kepala ku pening memikirkan nya
"cerita apa bang??" aku memberanikan diri bertanya setelah berusaha mengumpulkan mental dan keberanian ku. Entah kenapa atmosfir yang tercipta membuat ku laksana terdakwa kasus kejahatan non-organisir, dapat jelas kurasakan aura Bang Suga yang mengintimidasi, dominasi dan otoriter hingga membuat ku mati kutu.
" Rahma sudah lama naksir abang" Celetuk bang Suga, entah itu pernyataan atau pertanyaan, yang lebih nya, penuturan nya sukses membuat ku membolakan kedua mata ku, detik ini juga aku mengutuk Tima yang tidak bisa mengendalikan mulut besar nya, akibat nya aku terjebak disituasi seperti ini, situasi yang membuat ku semakin bingung, harus mengaku atau mengelak,? Aku meremat jemariku, nafas ku tertahan sekedar untuk membuka mulut
" Sejak kapan Rahma??" bang Suga kembali bertanya, aku masih membisu, aku menggigit bibir bawah ku " sejak kapan? Coba ngomong!!" titah nya padaku, menuntut ku untuk menjawab pertanyaan nya
" tidak tau," respon ku sekena nya, aku langsung memalingkan wajah
Bang Suga segera memaksa ku untuk menoleh kearah nya dengan mengarahkan dagu ku dengan jari telunjuk nya, ku lihat dia mendongak, tatapan nya menantang, tak ada guratan canda, wajahnya sangat minim expressi,membuat ku menjadi takut
" yang sok mau ikut organisasi pecinta alam, padahal fisik lemah. Yang mendadak suka musik Rapp, kopi hitam, one piece, national geographic, buah kiwi.. Semua karena Abang?? “ tutur nya penuh afeksi diktesisasi
Aku mengalihkan pandangan, lidah ku kelu untuk menjawab pertanyaan nya
" semua demi abang??" Tanya nya sekali lagi. Mau tidak mau aku mengangguk mengiyakan, aku lihat dia tersenyum tipis padaku, dia meraih lalu menarik tangan ku perlahan dan  meremat jemariku. Dapat kurasa kan aliran panas dari telapak tangan nya berpindah ke jemariku.
" yang lompat - lompat kegirangan depan kelas A37 setelah tau masuk divisi admin dibawah kepemimpinan abang ketika seminar rutinan, itu juga karena abang?? "
Aku menunduk dan mengangguk malu malu
"yang selalu merecokin abang tiap kali abang ngobrol sama cewek"
" ngek" aku melipat bibir ku
"kenapa?? “ Abang Suga menaikkan alis nya sebelah" cemburu?? "
" Ish apaan sih " alis ku menukik menatap nya
" mau marah, tp bukan siapa siapa iya?? " Abang Suga mencibirku
" udah ngomong nya,,,, berhenti!! "dengan refleks ku tutup mulut abang Suga dengan telapak tangan ku yang satunya, entahlah dapat dari mana keberanian semacam ini, abang Suga menepis pelan tangan ku sambil tersenyum jahil
" yang selalu menelanjangi abang dengan tatapan tiap abang jadi asdos"
" aku enggak liat abang, aku liat papan tulis"
"papan tulis nya ditatap nafsu begitu?" Abang Suga menaikan satu alis nya
" Ish abang!!" ku tarik tangan ku dari genggaman nya lalu kututup wajah ku dengan kedua telapak tangan ku, kulihat dia terkekeh atas tingkah ku.
"liat muka abang sinih" titah nya
Tapi aku menggeleng dengan wajah yang masih kututup
" Rahma!! “
" hum!! "
" liat mata abang "
Kenapa suara memelas Bang Suga menyesakan nafas ku yarobi, >_<. Aku tetap kekeh menggeleng, hingga harus membuat bang Suga melepas tangan yang tertempel diwajah ku, ia mencekal kedua pergelangan ku. Menatap ku dengan saksama dalam tempo yang sesingkat singkat nya sebelum dia berkata
" Abang Oon Ma...enggak sadar ada yang naksir " sesal nya
Aku menggigit bibir bawah ku untuk menanggapi nya
"abang enggak pernah kefikiran kalau Rahma naksir abang, karena abang mikir nya Rahma naksir Paimin, Abang tau Rahma suka nge-ship BTS, dan banyak bilang Paimin mirip Park Jimin"
"Bang Paimin justru yang nistain Aku sama Abang" aduku
" sampe ngunci kita berdua di toilet musholah?" terka nya  "malam malam kan, waktu sibuk sibuk ngurus expo"
Aku mengangguk
" Ah ya, sampe kamu nangis kan, ngejogrok depan pintu,ketakutan, padahal ada abang disitu "
"aku takut gelap bang" gerutu ku
"abang sampe nyalain senter HP, nangis nya enggak reda reda, abang sempat panik" ulas nya ditengah tawa nya yang berderai
" udah bang, jangan bahaaas!!" demi tuhan aku ingin menjerit kalau mengingat pengalaman suram ku ulah dari Paimin, senior seangkatan Bang Suga
"kenapa jangan bahas? Itu momen berdua kita" sindir nya
" malu bang!!" aku menundukan wajah ku dan menutup telinga ku
" hei kalau abang boleh jujur, abang sudah lama memperhatikan kamu, abang suka dengan pembawaan mu yang apa adanya, tapi abang tidak pandai mengaplikasikan nya dalam bahasa dan gerak tubuh. Dan akhirnya abang hanya bikin kamu kecewa"
" hum... Enggak kok bang" aku meringis jenaka pada nya
" kamu sampai menghilang tiba-tiba, suka menghindar kalau abang mendekat, bagaimana bisa abang tidak berfikir kamu tidak kecewa"
" ah abang... Sok tau"
" fikir abang, tindakan yang sudah abang ambil itu benar, abang enggak mau pacaran dengan kamu, pengen langsung nikah saja, sudah lama abang ingin mengutarakan, tapi abang tidak punya nyali, dan berujung kekecewaan . Maafin abang, abang tidak pernah bermaksud memberi harapan palsu"
"nikah??"
"hu'um" dia mengangguk " selesai abang wisuda, Rahma harus nikah sama abang"
..........................................................
" Ngajak nikah??? Bloody hell!!"
Sontak aku menutup mulut Tima dengan telapak tangan ku, suara volume up nya sukses menyita atensi para pengunjung McDonald's
"aku surprise Ma, aku Surprise!!" bisik tima di hadapan wajah ku. Usai kepulangan nya dari luar daerah, aku menceritakan semua  perihal aku dan abang Suga.
" kamu seneng donk!!" dia menepuk bahu ku "perasaan mu terbalas kan"
"Junaedi ku kemanain... Bijih timah!!"
“ish Madesu!! " timpal nya
Aku menghantam kepala Tima menggunakan modul selekta kapita hubungan internasional dengan keras, ia meringis kesakitan dibuat nya" ulah mu kan?? Kalo kamu enggak pake acara mengadu sama bang Suga, mungkin aku sudah tenang sama Juna, aku udah mulai cinta Juna, udah berhasil melupakan Bang Suga, tapi kamu bikin dia hadir kembali, lebih parah nya, aku tau kalo Bang Suga punya perasaan yang sama, aku harus bagaimana menanggapi nya, aku enggak mungkin mengecewakan Juna, dia terlalu baik untuk aku, belum lagi hubungan ku dengan Juna masih seumur jagung, apa iya aku harus menyakiti dia " omel ku panjang lebar
" kok aku disalahin? Semua aku lakukan untuk kamu,aku sayang kamu Ma.."
" dengan menempatkan ku di posisi seperti ini,itu namanya sayang?? aku mana tega nyakitin Juna "
" terus kamu tega gitu, mengabaikan semua usaha ku demi kamu, tidak menghargai sama sekali, kamu tau rasanya seperti apa?? Sakit!! "
" apa aku pernah minta kamu mencampuri urusan ku?? "
" aku mikir km Ma, sampai kapan km mau pendam perasaan mu. Sampai fir'aun hidup lagi lalu merenovasi piramid jadi persegi panjang? Sekalipun kamu ngomong, kamu melupakan bang Suga, itu bulshit, mata mu enggak bisa bohong. Belum lagi kamu sempat bilang, enggak selera dengan flower boy, tau tau nya Juna kamu pacarin, kmu yang enggak konsisten, aku yang disalahin "
Aku terdiam, aku tidak pernah terfikir jika situasi akan serunyam ini. Setelah aku memutuskan menjauh dari bang Suga, aku membuka hatiku, aku menyelewengkan tekad ku yang pernah ku buat sebelumnya. Aku membuka hati ku untuk Juna, agar aku bisa melupakan bang Suga, mungkin terkesan aku menjadikan Juna sebagai pelampiasan, aku akui iya, aku sadar aku jahat, namun seiring berjalan nya waktu, perilaku Juna terhadap ku menumbuhkan kembali asa dalam diriku, mengetuk nadi kehidupan ku serta menyirami dataran hatiku yang telah kering kerontang. Dari segi umur, Juna lebih muda dariku, namun sikap nya sangat dewasa, membuat ku selalu jatuh dan terus jatuh hati pada nya disetiap hari. Dia mungkin tampak begitu labil tapi justru dirinya lah yang nampak tenang ketika aku sulit difahami. Hingga aku sadar, aku mencintai nya, alasan ku mencintai nya adalah dirinya.
"aku harus bagaimana Tima!?" keluh ku, segala energi ku bagai hilang diterbangkan angin, air mata ku jatuh berderai, pandangan ku kabur, dadaku sesak serta kepala ku pening, aku tidak tau harus berbuat apa
"satu satunya solusi, hanya jujur Ma, jujur pada dirimu sendiri jujur sama Juna dan jujur sama Bang Agus"
.......................................................................................................................................................................
" siapa namanya??"
“Juna!! "aku menjawab ragu - ragu, kulihat bang Suga menoleh kan pandangan nya ke arah lain, ia terdiam, aku pun terdiam suasana hening. Setelah menimang nimang keputusan aku memilih untuk jujur pada Bang Suga, aku sudah punya pacar. Entah lah, aku tidak tau apa yang difikiran abang Suga kali ini, ia masih tak memandang ku, dia menatap ke arah lain, keperhatikan wajah nya, wajah ya selalu terlihat tampan bagiku, poni hitam nya tersibak oleh angin sepoi sepoi. Aku terlalu mendamba nya, tapi apakah aku bisa memiliki nya??. Abang Suga beranjak dari posisi nya, ia berjalan kearah ku, menghampiri ku, lalu menangkup pipi ku dengan kedua tangannya, ia memaksa ku untuk menatap nya dan berkata
" tidak apa-apa, selagi abang menyusun skripsi, biar Juna yang jagain jodoh nya Abang"







 

No comments:

Post a Comment

James Arthur - Cars Outside

I'm packin' my bags that I didn't unpack the last time Ku kemas tasku yang tidak ku bongkar saat itu  I'm sayin', "...