Entahlah !! masih ada lanjutan nya atau tidak.
The Conscious
Aku
yang mulai lelah di pengunjung hari, berusaha melepas segala harapan tabu ku
akan diri pemuda yang selalu menyita atensi ku, sosok pemuda dengan mata kecil
nya yang sukses membuat hari-hari ku berwarna. Pemuda yang menjadi satu-satunya
alasan untuk ku bertingkah layaknya seorang gadis. Mengenakan High hill, wewangian
bunga, pewarna kuku, setelan dress panjang dan masih banyak hal feminim lainnya.
Namun apalah daya ku, yang hanya gadis biasa, manusia pada umumnya, yang
memiliki titik jenuh dan keputus asaan. Tak mampu menunggu lebih lama lagi
sekedar menanti secercah harapan untuk ku menggengam nya menjadi milikku
sepenuhnya. Hingga di akhir nya, aku melangkah maju meninggalkan nya, membuka
hatiku demi sebuah lembaran baru di masa depan. Menerima seseorang yang ku
harapkan mampu menjadi penopang ku ketika diri ku lelah dirajai hari. Tapi lagi
lagi segala kenyataan tak sesuai yang ku harapkan, ketika tangan tuhan,
menempatkan ku pada posisi terjepit. Di saat aku mulai bangkit, dia kembali
hadir dalam hidupku.
"Rahma!!!
Disini juga?? “
Aku
terperanjat lalu menoleh, kulihat abang Suga berada di belakang ku, dengan penampilan
kasual nya yang sekali lagi membuat ku terpana,Bang Suga mengenakan kaos hitam
polos berkerah V dengan jaket Varsity yang melapisi nya serta dipadukan dengan
celana jeans puntung hingga di lutut nya, penampilan yang simpel tapi masih
menunjukkan aura menawan dari nya, tak lupa pula ia mengenakan sendal jemput eiger
yang membuat penampilan terlihat boyish, padahal umurnya dua puluhan lebih.
"
eh Bang Agus " respon ku namun aku segera menutup mulut ku, ya Astaga, aku
keceplosan, efek dari keseringan nya aku membahas Bang Suga sama Tima, aku selalu
mengkamuflase nama Bang Suga menjadi Bang Agus, membalik huruf nya dari
belakang ke depan. Akhirnya, Begini jadinya, keceplosan.
"
belanja??" Tanya nya padaku. aku bisa bernafas lega, dia tidak menyadari
kalau aku salah menyebut nama
"
eh...eum tidak juga , hanya beli ikan" aku menjawab gagap. Dia merespon
dengan berdehem " abang beli apa disini? " aku memberanikan diri
bertanya, usaha, agar percakapan ini tidak putus
"
beli jarum sepatu" jawab nya singkat
"
untuk jahit sepatu?" Tanya ku basa basi
"
untuk jahit mulutnya orang yang nanya bodo bodo, dimana - dimana jarum sepatu
untuk jahit sepatu"
Aku
menunduk sambil cengengesan, mengiyakan ucapan Bang Suga, tipikal Bang Suga
yang tidak bisa hilang, omongannya pedis, belum lagi kepribadian nya yang susah
ditebak, tadinya ramah, tapi tiba-tiba bisa berubah drastis layaknya mafia
underground yang gemar mengeluarkan umpatan kasar, aku mulai berfikir, untuk
memasukkan nama Bang Suga di mata kuliah Kejahatan Internasional sebagai daftar
penjahat paling berpengaruh di dunia.
Ngomong
- ngomong aku baru sadar, ini pertama kalinya aku bertemu bang Suga di luar
kampus, dan ya Tuhan, penampilan ku benar benar berantakan kali ini, aku
mengumpat diri ku dalam hati yang begitu bodoh nya mengenakan kaos kampanye
keluar rumah. Ini baju nya bapaaak.... yagusti >_<, kaos partai PDIP
jaman bapak masih jadi pegawai rendah. Aku suka kaos ini, warna nya hitam,
jarang kaos kampanye warna hitam merah begini . Tapi seandainya tau akan ketemu
Bang Suga mana mungkin berani aku pake kaos ini, aku lebih PD pake kaos Darbost
>_<, belum lagi ukurannya yang kedodoran ditubuh ku ,di tambah lagi ada
gambar sablon kepala banteng besar dibagian dada . Aku pun mengenakan celana
tidur doraemon yang ku pakai semalam, serta sendal jepit Carvil kulit warna
coklat yang juga kebesaran dikaki ku, perlu digaris bawahi, ini sandal jepit
nya bapak kalo pergi sholat Jum'at dimasjid , dan yang lebih parah nya lagi,
aku tak memakai jilbab, kurang mampus apalagi coba bung, dengan percaya dirinya
aku mengekspose rambut exotic ku yang lebih mirip sarang burung walet. Hamba
malu ya rabb, takut Bang Suga ilfil padaku , Bang Suga penampilan biasa saja
tetap ganteng, sedangkan aku lebih mirip pembungkus nasi sterofom yang mangkrak
di sudut bangku terminal kereta api T_T. Aku ingin lari menghindari tapi bang Sungai
malah menawariku pulang bersama
"
tapi aku bawa motor sendiri bang" aku mengelak tawaran nya dengan sesopan
mungkin
"
ya sudah, klo gitu jalan bareng sampe parkiran"
Aku cuma
bisa menganguk kikuk, kehabisan akal untuk bisa menghindari Bang Suga, sampai
parkiran, sampai disitu saja kok, lg pula rumah ku beda arah dengan rumah nya.
Ketika
sampai parkiran, abang Suga terkikik sambil menutup mulutnya, aku menoleh heran
melihat tingkah nya
"
itu gimana bawa nya?" ujarnya ketika tau aku bawa motor besar, aku baru
ingat, aku bawa motor nya bapak ke pasar, motor ku dibawa arisan mama.
"
tangan satu" ucap ku seenaknya, tapi terus terang aku kesulitan
"
ya enggak bisa, itu motor koplen Ma"
"aku
enggak kepikiran bawa keranjang belanja"
"
sekalipun bawa keranjang, mau taruh mana,? di stang? Enggak mungkin, kecuali kamu
bawa temen untuk megangin"
Aku
terdiam, kenapa aku bodo sih, bodo depan nya Bang Suga lagi, malu lagi kan?
Muka taroh mana Yarobi . Alih alih mau keliatan keren bawa motor gede, yang ada
justru keliatan bego mendadak
"
sini abang yang bawa kantong ikan nya"
"hah,
enggak perlu bang, aku gantung aja di subreker" shit!! ngomong opo to aku
iki
“motor
abang matic, ada gantungan nya di depan "
"
tapi air ikan nya netes bang nanti motor nya abang amis"
"
kan bisa di cuci"
"tapi
ngerepotin bang"
"enggak
apa-apa" Bang Suga merebut kantong ikan belanjaanku dari tangan ku
Kalau
masalah adu argumen atau debat apapun itu, ngeyel - ngeyelan sekalipun macam
ini, aku akan tetap kalah kalo sama Bang Suga. Ujungnya aku hanya nurut, ngikutin
segala komando nya.
Sepanjang
jalan yang ku dengar Bang Suga terus tertawa terbahak bahak , dia naik motor mengikuti
ku dari belakang.
"itu
kalo ada lobang minggir Ma" teriak nya sambil tertawa " jangan di
labrak begitu saja" abang Suga menertawakan gaya ku mengendarai motor,
sekedar informasi, aku pernah mengalami kecelakaan hebat ketika naik motor,
hingga menyisakan trauma mendalam, aku selalu kagok kalau berkendara, aku masih
takut nyelip kendaraan lain, alhasil kalau mengendarai motor, aku lurus terus,
enggak perduli ada lobang, aku tabrak saja, aku takut ambil jalur nya orang
demi menghindari jalanan jelek. Tapi tentu saja Bang Suga tidak tau itu,
makanya dia terus menertawai ku. Tanpa tau dia, aku sebenarnya malu teramat sangat
Bang
Suga mengikuti ku sampai depan rumah, dia menyodorkan kantung ikan ku. Aku bisa
liat mukanya memerah layaknya udang rebus, efek terlalu banyak tertawa. Tapi
justru membuat tampang Bang Suga terlihat unyu, ingin rasanya aku bawa masuk
dalam rumah, ku pajang dalam kamar, kupandangi setiap malam atau kujadikan
gantungan kunci motor ku agar aku bisa membawanya kemana mana. Ya Allah, kok
ada ya makhluk yang ganteng nya tidak ada habis - habis nya. Seketika aku tidak ingat bagaimana caraku
melupakan nya "
" yodah,
abang pulang dulu" ujarnya sambil memutar setir motor nya
"makasih
bang!" aku menyaut nya, dia mengangguk, lalu tancap gas
" jangan
ngebut bang, aku masih sayang kamu T_T" batin ku, sambil menyentuh dada ku
sendiri
hah, entah
lah ada apa dengan hari ini, hari yang tak pernah terprediksi di otak ku,
tiba-tiba bertemu Bang Suga. Aku senang sebenarnya, karena jauh dilubuk hatiku
aku merindukanmu eksistensi nya di hari-hari ku. Tapi aku tak bisa memungkiri,
aku malu, karena hanya hal hal bodo yang terlihat dariku ketika bersama nya
tadi.
Aku
meremat rambut ku, mengehentak-hentakan kaki ku lalu berlari masuk dalam rumah.
...................................................................................................................................................................................
Sejak
pertemuan ku dengan abang Suga tempo hari di pasar, aku lebih sering melihat Bang
Suga menyambangi kantin, entah tujuan apa, setau ku Bang Suga adalah penghuni
setia gazebo depan secret, bersama laptop kesayangan nya atau teman teman
seangkatan nya yang memiliki otak berideologi tinggi. Aku selalu menepis rasa percaya
diri ku setiap kali aku menangkap basah Bang Suga tengah menatap ku dari tempat
duduk nya. Aku selalu meyakinkan diriku, bukan aku satu-satunya objek yang
ditangkap oleh penglihatan nya. Aku kadang mengabaikan nya dengan kembali
berkutat dilaptop ku sekedar menyelesaikan tugas kuliah ku atau berjelajah di
dunia maya dengan modal membobol Wi-Fi kampus yang memiliki kecepatan 957kb/s.
Sudah beberapa hari aku menghabiskan kegiatan ku di kantin ini sendirian,
biasanya ada Tima bersama ku yang selalu meramaikan suasana dengan tingkah nya
yang seperti angin topan, tapi minggu lalu, dia pamit padaku ke luar daerah
untuk menjalani praktek lapangan selama satu bulan. Aku merasa hari ku begitu
lenggang, aku suka suasana seperti ini tapi aku tak bisa memungkiri, aku
merindukan Tima yang selalu mengacaukan setiap detik dihari hariku.
Kembali
ke pembahasan awal, tentang Bang Suga yang tiba-tiba sering bermigrasi ke
kantin dengan memboyong teman temannya. mereka bertujuh , entah apa yang
diobrolkan mereka, terlihat begitu seru dan riuh, sesekali ada yang tertawa
sambil menggelengkan kepala nya, aku juga sering melihat bagaimana abang Suga
tertawa lebar hingga membuat mata nya semakin menyipit. Namun kadang dengan tiba-tiba
Bang Suga melemparkan pandangannya ke arah ku yang berada beberapa meter
darinya. Dan membuat ku salah tingkah, jika sudah begitu,dengan santai nya dia kembali
membuang muka. Lagi lagi tingkah abstrak Bang Suga yang selalu nampak darinya,
membuat ku sulit menerjemahkan nya, dan berakhir dengan aku yang menghela nafas
ku dengan lemah.
.....................................................................................................................................................................
Hari ini,
aku sengaja datang terlambat ke kantin dari biasanya, ku edarkan pandangan ku
seantero kantin, aku tak mendapati sosok Bang Suga yang menurutku jam begini
adalah jam makan siang nya bersama teman-teman nya.
"
cari siapa?" aku terperanjat, suara yang tak asing ditangkap indra pendengaran
ku muncul dari balik punggung ku, itu Bang Suga. Aku hendak menoleh kebelakang tapi
bang Suga keburu berdiri di samping ku, ia menggedikan dagunya ke dalam kantin,
mengisyaratkan ku untuk masuk, aku membalas nya dengan anggukan, membiarkan Bang
Suga berjalan mendahului ku, aku berjalan mengikuti nya, dari belakang aku
memindai postur Bang Suga. Penampilan nya berbeda saat ini. Aku kenal betul
bagaimana penampilan abang Suga tiap ke kampus, dia selalu tampil formal dan
modis, tampilan nya santai tapi berwibawa. Selama ini dia selalu mengenakan
celana kain yang tampak begitu lurus menyelimuti kaki panjang nya, serta kemaja
dengan berbagai motif sebagai paduan nya, mulai dari motif batik, kotak kotak
atau kemeja dengan paduan degradasi warna. Rambutnya selalu dia semir berbagai warna,
mulai warna terang hingga gelap, segala warna sudah dicoba nya. Bang Suga tipe
cowok yang fashionable sebenarnya, biarpun penampilan nya selama ini cenderung resmi
dan kantoran tapi dia pandai memadu gaya hingga tampilan nya tak terlihat tua
dan membosankan. Alasan dia berpenampilan formal adalah karena otoritas kampus,
semua fakultas wajib mengenakan kemeja dan celana kain, kecuali fakultas Teknik,
fakultas dengan otoritas terkuat disepanjang ranah perkampusan, satu satunya fakultas
yang tak mau menghilangkan identitas legenda mereka, baju hitam dan sendal jepit
swallow, ok ini berlebihan. Aku sendiri belum pernah terlalu dekat dengan anak-anak
teknik, aku takut, penampilan nya lebih mirip tokoh tokoh sinema Mahabarata. Gondrong.
Kembali
ke Bang Suga, penampilan nya berbeda drastis seperti biasanya. Dia mengenakan
celana jeans skinny warna hitam dengan robek di lutut nya, dan membiarkan lutut
kurus nya terekspose sempurna, aku baru sadar, selain panjang, kaki Bang Suga tampak
kurus, celana jeans ini benar-benar membalut ketat jenjang kaki nya. Ia pun
mengenakan kaos Supreme berwarna kuning serta dilapisi bomber warna hijau Army.
Aku tau alasannya berpenampilan seperti ini, dia sudah tidak punya jadwal mata kuliah,
dia tengah sibuk menyusun skripsi, membuat nya harus bolak balik masuk perpustakaan.
Mungkin ini salah satu alasan untuk nya berpenampilan kasual dikampus. Belum
lagi, ia mulai menyemir rambutnya dengan warna hitam, mungkin karena mau ujian
akhir, fikir ku.
"
sudah makan??" tanya nya ketika sampai di kursi yang dituju nya, aku membalas
nya dengan menggeleng , dia berdehem, maksudnya apa coba, aku mungkin yang
terlalu percaya diri jika berfikir abang Suga akan menawari ku makan siang
bersama, aku menghela nafas ku, lalu beranjak dari sisinya menuju ke deretan
bangku lain, namun Bang Suga mencekal pergelangan tanganku, dia menggedikan
dagunya ke bangku yang dituju nya, aku menuruti nya, ku sampirkan tas ku di sebelah
ku, abang Suga duduk dihadapan ku dengan meja sebagai pembatas nya. Dia memesan
beberapa makanan sebelum ia memulai topik pembicaraan
"teman
mu itu siapa namanya??" Abang Suga membuka percakapan sambil menyandarkan
punggung tipis nya pada sandaran kursi
"teman
yang mana ya bang??" aku mengerutkan kening ku
"
teman yang sering jalan sama kamu, tapi bukan anak Fisip"
"
oh Tima...!! Fatima namanya" ujar ku sambil mengulas senyum menyembunyikan
kegusaran dalam hatiku " ada apa ya Bang?" aku menelan ludah ku,
segala kekhawatiran ku berkecamuk dalam otak ku, kepalaku dipenuhi dengan
segala spekulasi buruk akan apa yang sebenarnya telah dilakukan Tima hingga
membuat Abang Suga rela membuang waktu nya demi membahas dia, Abang Suga tipe
orang yang tak akan membahas hal hal yang dirasa ya kurang penting. Aku menunduk,
merapalkan segala doa yang mungkin saja bisa menolong ku dari hal-hal buruk,
aku khawatir jika Tima melakukan sesuatu yang tak menyenangkan pada Abang Suga,
mungkin menyinggung atau melecehkan. Tima terkenal dengan sifat yang blak blakan,
asal ngomong tidak perduli fikiran orang, kadang juga nyeleneh, dan bertingkah tanpa
berfikir lebih dahulu. Dari balik wajah ku yang tertunduk, aku melihat Abang
Suga berjengit dari posisi nya, ia mencondongkan tubuhnya kearah ku dengan
perlahan, aku bisa merasakan aroma pasta gigi, wax serta parfum nya menyeruak
mendekati ku, menabrak indra penciuman ku. Kuberanikan diri mendongak, aku
nyaris terjengkang karena kaget jika saja pengendalian diri ku kurang baik,
bagaimana tidak, wajah abang Suga terlampau dekat dengan ku, menatap ku tajam, belum
lagi dengan seringai menyesatkan yang terukir di bibir nya nyaris membuat ku
limbung dan tak sadar kan diri. Apa yang dilakukan nya ya Tuhan, ini tempat
umum,tubuh ku membeku tak ada yang dapat kulakukan selain memundurkan tubuhku beberapa
senti dari hadapan nya, sekedar menambah jarak antara aku dengan nya, demi
tuhan, mungkin saja beberapa pasang mata tengah menatap pada kami. Hingga
akhirnya dia kembali pada posisi duduk nya, namun dengan dagu yang ia topang
dengan telapak tangan yang ia tumpu di atas meja, masih dengan tatapan yang tak
lepas dariku. Aku semakin salah tingkah di buat nya, kenapa setelah menanyakan
Tima, tingkah Bang Suga mendadak aneh seperti ini.
" dia
ceritakan semua sama abang" ujar bang Suga sambil menaikkan salah satu
alis nya
Aku
kembali menelan ludah ku, ada apalagi ya Tuhan, apa yang Tima ceritakan pada
Abang Suga, lagi lagi kepala ku pening memikirkan nya
"cerita
apa bang??" aku memberanikan diri bertanya setelah berusaha mengumpulkan
mental dan keberanian ku. Entah kenapa atmosfir yang tercipta membuat ku
laksana terdakwa kasus kejahatan non-organisir, dapat jelas kurasakan aura Bang
Suga yang mengintimidasi, dominasi dan otoriter hingga membuat ku mati kutu.
"
Rahma sudah lama naksir abang" Celetuk bang Suga, entah itu pernyataan
atau pertanyaan, yang lebih nya, penuturan nya sukses membuat ku membolakan kedua
mata ku, detik ini juga aku mengutuk Tima yang tidak bisa mengendalikan mulut
besar nya, akibat nya aku terjebak disituasi seperti ini, situasi yang membuat
ku semakin bingung, harus mengaku atau mengelak,? Aku meremat jemariku, nafas
ku tertahan sekedar untuk membuka mulut
"
Sejak kapan Rahma??" bang Suga kembali bertanya, aku masih membisu, aku
menggigit bibir bawah ku " sejak kapan? Coba ngomong!!" titah nya
padaku, menuntut ku untuk menjawab pertanyaan nya
"
tidak tau," respon ku sekena nya, aku langsung memalingkan wajah
Bang
Suga segera memaksa ku untuk menoleh kearah nya dengan mengarahkan dagu ku
dengan jari telunjuk nya, ku lihat dia mendongak, tatapan nya menantang, tak
ada guratan canda, wajahnya sangat minim expressi,membuat ku menjadi takut
"
yang sok mau ikut organisasi pecinta alam, padahal fisik lemah. Yang mendadak
suka musik Rapp, kopi hitam, one piece, national geographic, buah kiwi.. Semua
karena Abang?? “ tutur nya penuh afeksi diktesisasi
Aku
mengalihkan pandangan, lidah ku kelu untuk menjawab pertanyaan nya
"
semua demi abang??" Tanya nya sekali lagi. Mau tidak mau aku mengangguk mengiyakan,
aku lihat dia tersenyum tipis padaku, dia meraih lalu menarik tangan ku
perlahan dan meremat jemariku. Dapat
kurasa kan aliran panas dari telapak tangan nya berpindah ke jemariku.
"
yang lompat - lompat kegirangan depan kelas A37 setelah tau masuk divisi admin
dibawah kepemimpinan abang ketika seminar rutinan, itu juga karena abang?? "
Aku menunduk
dan mengangguk malu malu
"yang
selalu merecokin abang tiap kali abang ngobrol sama cewek"
" ngek"
aku melipat bibir ku
"kenapa??
“ Abang Suga menaikkan alis nya sebelah" cemburu?? "
"
Ish apaan sih " alis ku menukik menatap nya
"
mau marah, tp bukan siapa siapa iya?? " Abang Suga mencibirku
" udah
ngomong nya,,,, berhenti!! "dengan refleks ku tutup mulut abang Suga dengan
telapak tangan ku yang satunya, entahlah dapat dari mana keberanian semacam ini,
abang Suga menepis pelan tangan ku sambil tersenyum jahil
"
yang selalu menelanjangi abang dengan tatapan tiap abang jadi asdos"
"
aku enggak liat abang, aku liat papan tulis"
"papan
tulis nya ditatap nafsu begitu?" Abang Suga menaikan satu alis nya
" Ish
abang!!" ku tarik tangan ku dari genggaman nya lalu kututup wajah ku
dengan kedua telapak tangan ku, kulihat dia terkekeh atas tingkah ku.
"liat
muka abang sinih" titah nya
Tapi aku
menggeleng dengan wajah yang masih kututup
"
Rahma!! “
"
hum!! "
"
liat mata abang "
Kenapa
suara memelas Bang Suga menyesakan nafas ku yarobi, >_<. Aku tetap kekeh
menggeleng, hingga harus membuat bang Suga melepas tangan yang tertempel
diwajah ku, ia mencekal kedua pergelangan ku. Menatap ku dengan saksama dalam
tempo yang sesingkat singkat nya sebelum dia berkata
"
Abang Oon Ma...enggak sadar ada yang naksir " sesal nya
Aku
menggigit bibir bawah ku untuk menanggapi nya
"abang
enggak pernah kefikiran kalau Rahma naksir abang, karena abang mikir nya Rahma
naksir Paimin, Abang tau Rahma suka nge-ship BTS, dan banyak bilang Paimin mirip
Park Jimin"
"Bang
Paimin justru yang nistain Aku sama Abang" aduku
"
sampe ngunci kita berdua di toilet musholah?" terka nya "malam malam kan, waktu sibuk sibuk
ngurus expo"
Aku
mengangguk
"
Ah ya, sampe kamu nangis kan, ngejogrok depan pintu,ketakutan, padahal ada
abang disitu "
"aku
takut gelap bang" gerutu ku
"abang
sampe nyalain senter HP, nangis nya enggak reda reda, abang sempat panik"
ulas nya ditengah tawa nya yang berderai
" udah
bang, jangan bahaaas!!" demi tuhan aku ingin menjerit kalau mengingat
pengalaman suram ku ulah dari Paimin, senior seangkatan Bang Suga
"kenapa
jangan bahas? Itu momen berdua kita" sindir nya
"
malu bang!!" aku menundukan wajah ku dan menutup telinga ku
"
hei kalau abang boleh jujur, abang sudah lama memperhatikan kamu, abang suka
dengan pembawaan mu yang apa adanya, tapi abang tidak pandai mengaplikasikan
nya dalam bahasa dan gerak tubuh. Dan akhirnya abang hanya bikin kamu kecewa"
"
hum... Enggak kok bang" aku meringis jenaka pada nya
"
kamu sampai menghilang tiba-tiba, suka menghindar kalau abang mendekat, bagaimana
bisa abang tidak berfikir kamu tidak kecewa"
"
ah abang... Sok tau"
" fikir
abang, tindakan yang sudah abang ambil itu benar, abang enggak mau pacaran
dengan kamu, pengen langsung nikah saja, sudah lama abang ingin mengutarakan, tapi
abang tidak punya nyali, dan berujung kekecewaan . Maafin abang, abang tidak
pernah bermaksud memberi harapan palsu"
"nikah??"
"hu'um"
dia mengangguk " selesai abang wisuda, Rahma harus nikah sama abang"
..........................................................
" Ngajak
nikah??? Bloody hell!!"
Sontak
aku menutup mulut Tima dengan telapak tangan ku, suara volume up nya sukses menyita
atensi para pengunjung McDonald's
"aku
surprise Ma, aku Surprise!!" bisik tima di hadapan wajah ku. Usai
kepulangan nya dari luar daerah, aku menceritakan semua perihal aku dan abang Suga.
"
kamu seneng donk!!" dia menepuk bahu ku "perasaan mu terbalas kan"
"Junaedi
ku kemanain... Bijih timah!!"
“ish
Madesu!! " timpal nya
Aku menghantam
kepala Tima menggunakan modul selekta kapita hubungan internasional dengan
keras, ia meringis kesakitan dibuat nya" ulah mu kan?? Kalo kamu enggak pake
acara mengadu sama bang Suga, mungkin aku sudah tenang sama Juna, aku udah mulai
cinta Juna, udah berhasil melupakan Bang Suga, tapi kamu bikin dia hadir
kembali, lebih parah nya, aku tau kalo Bang Suga punya perasaan yang sama, aku harus
bagaimana menanggapi nya, aku enggak mungkin mengecewakan Juna, dia terlalu
baik untuk aku, belum lagi hubungan ku dengan Juna masih seumur jagung, apa iya
aku harus menyakiti dia " omel ku panjang lebar
"
kok aku disalahin? Semua aku lakukan untuk kamu,aku sayang kamu Ma.."
"
dengan menempatkan ku di posisi seperti ini,itu namanya sayang?? aku mana tega nyakitin
Juna "
"
terus kamu tega gitu, mengabaikan semua usaha ku demi kamu, tidak menghargai sama
sekali, kamu tau rasanya seperti apa?? Sakit!! "
"
apa aku pernah minta kamu mencampuri urusan ku?? "
"
aku mikir km Ma, sampai kapan km mau pendam perasaan mu. Sampai fir'aun hidup
lagi lalu merenovasi piramid jadi persegi panjang? Sekalipun kamu ngomong, kamu
melupakan bang Suga, itu bulshit, mata mu enggak bisa bohong. Belum lagi kamu
sempat bilang, enggak selera dengan flower boy, tau tau nya Juna kamu pacarin, kmu
yang enggak konsisten, aku yang disalahin "
Aku
terdiam, aku tidak pernah terfikir jika situasi akan serunyam ini. Setelah aku memutuskan
menjauh dari bang Suga, aku membuka hatiku, aku menyelewengkan tekad ku yang
pernah ku buat sebelumnya. Aku membuka hati ku untuk Juna, agar aku bisa
melupakan bang Suga, mungkin terkesan aku menjadikan Juna sebagai pelampiasan,
aku akui iya, aku sadar aku jahat, namun seiring berjalan nya waktu, perilaku Juna
terhadap ku menumbuhkan kembali asa dalam diriku, mengetuk nadi kehidupan ku serta
menyirami dataran hatiku yang telah kering kerontang. Dari segi umur, Juna
lebih muda dariku, namun sikap nya sangat dewasa, membuat ku selalu jatuh dan
terus jatuh hati pada nya disetiap hari. Dia mungkin tampak begitu labil tapi justru
dirinya lah yang nampak tenang ketika aku sulit difahami. Hingga aku sadar, aku
mencintai nya, alasan ku mencintai nya adalah dirinya.
"aku
harus bagaimana Tima!?" keluh ku, segala energi ku bagai hilang
diterbangkan angin, air mata ku jatuh berderai, pandangan ku kabur, dadaku
sesak serta kepala ku pening, aku tidak tau harus berbuat apa
"satu
satunya solusi, hanya jujur Ma, jujur pada dirimu sendiri jujur sama Juna dan jujur
sama Bang Agus"
.......................................................................................................................................................................
"
siapa namanya??"
“Juna!!
"aku menjawab ragu - ragu, kulihat bang Suga menoleh kan pandangan nya ke arah
lain, ia terdiam, aku pun terdiam suasana hening. Setelah menimang nimang
keputusan aku memilih untuk jujur pada Bang Suga, aku sudah punya pacar. Entah lah,
aku tidak tau apa yang difikiran abang Suga kali ini, ia masih tak memandang ku,
dia menatap ke arah lain, keperhatikan wajah nya, wajah ya selalu terlihat tampan
bagiku, poni hitam nya tersibak oleh angin sepoi sepoi. Aku terlalu mendamba
nya, tapi apakah aku bisa memiliki nya??. Abang Suga beranjak dari posisi nya,
ia berjalan kearah ku, menghampiri ku, lalu menangkup pipi ku dengan kedua
tangannya, ia memaksa ku untuk menatap nya dan berkata
"
tidak apa-apa, selagi abang menyusun skripsi, biar Juna yang jagain jodoh nya
Abang"
No comments:
Post a Comment