Sunday, December 9, 2018

Cerpen rejama Karena mu Bang Suga (Part 1)



Belum selesai sebenarnya, masih ada kelanjutan tentang Bang Suga.


The Admirer


 " Aku sudah lama memperhatikan mu "
" kamu itu apa ada nya,berbeda dari yang lain !!"
"Abang itu bodoh Ma "

" kenapa dia harus hadir di saat aku sudah melangkah meninalkan nya  T_T "

.......................................................................................................................................................................
“Jangan mengagumi seseorang terlalu dalam, jika Ujung2nya hanya akan membuat hati mu terpatahkan”
 Aku tau itu. Mencintai dalam diam, memuja dalam keheningan hanya akan membuat hatiku terluka, tapi apa daya ku, aku sang pemilik hatiku namun sedikit pun tak mampu menghentikan perasaan ini pada nya. Aku selalu sadar akan semua yang terjadi padaku saat ini, membuat ku harus memiliki mental baja ketika kekecewaan merajam sanubariku, dengan tegar ku tutup luka ini, serta menahan gejolak api cemburu yang selalu membara dalam hatiku. Karena mau marah pun, aku sadar "aku ini siapa nya? "
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Kantin Kampus, aku mungkin cukup siting saat ini karena memilih kantin kampus sebagai satu-satunya  tempat ku berhirbernasi dari berbagai tugas kuliah yang nyaris saja mengupas kulit kepala ku. Kejahatan Internasional, jangan abaikan itu, demi tuhan itu nama mata kuliah, siapa pun tak akan menemukan mata kuliah yang membuat mati akal selain di Hubungan Internasional, benar-benar mata kuliah yang membuat ku harus kembali membaca lembaran tebal Novel The Godfather atau menonton kembali film film box office Amerika bergendre Mafia bawah tanah. Namun sepertinya aku salah, jika mengatakan ini adalah acara hibernasi ku, karena aku mengajak teman ku yang tawanya selalu menambah riuh suasana di dalam kantin Kampus ini.
" yang benar saja" Celetuk nya "aku tidak pernah menyangka klo aku dan dia punya kesamaan, bahkan sampai membuat orang beranggapan klo kita kembar" ujarnya sambil mulutnya sibuk mengunyah tortilla dengan lelehan keju mozzarella di setiap sisi nya " jangan kan kembar,saudara kandung pun bukan, aku dari Surabaya, dia dari Medan, klo perihal nama, hanya depan nya saja yang sama kok, aku Indriyani nurfatimah, klo dia Indra Rahma Fenorita"
Itu Tima, anak pertambangan semester 5,temanku kemana pun aku pergi walaupun aku dan dia beda jurusan. Dia tipikal cewek yang doyan digombalin cowok , senang meladeni omongan kosong dari setiap laki-laki, yang ganteng. Seperti saat ini, dia tengah asik asik nya ngobrol dengan senior ku di Hubungan Internasional. Bang Kai, lengkap nya Kaisang Pangabean, blasteran Jawa Medan, tapi sejak kecil di Jawa, Solo lebih tepatnya, itu sebabnya logat bicara nya sangat kental dengan akses keraton. Wajah nya mirip Kim Jongin Exo, itu alasan Tima yang membuat nya selalu tersangkut di Fakultas Fisip tiap lowong kuliah nya. Dia ngefans berat sama senior ku ini yang terkenal pintar sekali membual, bagaikan dibutakan pesona, Tima tidak perduli dengan tabiat Bang Kai yang doyan menggombal.
"oke" Bang Kai menyahut sambil tertawa ringan " wajah penampilan serta nama oke lah kalian punya kesamaan, tapi klo kebribadian beda jauh" terang nya panjang lebar " Indra sifatnya judes..."
" Rahma bang... Nama ku Rahma" aku menginterupsi sambil menoleh tipis ke arah nya dengan telapak tangan masih menopang pipiku sebelah
Bang Kai cuma mengiyakan protes ku dengan cengengesan sambil mengangkat tangannya defensif, sedangkan kan Tima langsung menyikut kasar perut ku, matanya mendelik protes terhadap ku mengisyaratkan bahwa dia tidak suka tingkah ku yang mengganggu suasana yang baginya tepat untuk tebar pesona. Aku memutar bola mata ku jengah, dan memilih mengalihkan pandangan ku untuk menatap sesuatu yang mungkin bisa di terima baik oleh indra penglihatan ku.
..........................................................................................................................................................................
" klo mau ber" bang Kai" ria jangan ngajak aku deh tim, tau sendiri kan aku jenuh ngeladenin omongan bulshit cowok player kaya dia " protesku sekali lagi ketika ketika Tima kembali mengajak ku untuk nongkrong di secret Fakultas Fisip" ujung2x aku dikacangin deh" gerutu ku, jika mengingat bagaimana tingkah nya Tima, lupa teman kalau sudah ketemu idola nya
"Ma... Aku ngelakuin ini bukan sekedar buat aku doank kok, ada simbiosis mutualismenya"
" hah?" aku mengerutkan dahi ku
" kamu pikir aku enggak tau Ma, kamu suka diam diam nyuri pandang ke Bang Suga yang lagi duduk di gazebo tiap kali kita nongkrong bareng "
Aku menghela nafas ku lemah, mataku kembali terantuk pada sosok pemuda yang sedari tadi masih sibuk berkutat dengan laptop nya di Gazebo. Adalah bang Suga, nama lengkapnya Muhammad Yongi Atmaja, senior di jurusan ku. ada alasan kenapa orang memanggil nya Suga. Senyuman nya, senyuman nya yang semanis gula yang membuat nya mendapatkan julukan Sugar. Walaupun senyuman nya manis bukan berarti dia doyan senyum, aku berani bertaruh dalam satu dekade senyuman yang terukir di bibir tipis nya bisa dihitung jari, Bang Suga punya sifat yang dingin, dingin minta ampun, melebihi dinginnya es krim paddle pop di kulkas alfamart. Dia tipe orang yang enggak suka mengumbar omongan, tapi sekali ngomong, omongan nya kadang nyelekit, bang Suga orang nya tampan mirip personil BTS katanya anak anak K-popers yang juga ngefans Bang Suga. Begitu pun aku, aku ngefans berat sama dia, lebih tepatnya mengagumi, segala yang terpahat dalam diri bang Suga selalu membuat ku terpana, entah lah, aku mungkin terlalu berlebihan jika mengimplementasikan bang Suga laksanakan pahatan surgawi. Aura yang selalu memancar darinya seketika membuat sistem syaraf ku bekerja anomali, jantung ku berdetak lebih kencang dari biasanya tatkala ku dengar suara tepakan kaki nya berjalan menghampiri ku. Bagiku segala dalam diri bang Suga adalah keindahan. Namun pernahkah berfikir jika menganggumi itu indah? Aku mengagumi tanpa dikagumi lebih tepatnya. Aku pemuja rahasia nya Bang Suga, ya walaupun aku mungkin baginya bagaikan butiran biji wijen yang bertebaran di galaksi Bima sakti, terlalu remeh dan tak berarti apa-apa. Aku yang terlihat biasa biasa saja jika dirinya berada di sekitar ku, tapi dalam hatiku bergejolak, mendambakan nya teramat dalam hingga pangkal kewarasan ku. Aku rela melakukan apapun demi bisa dekat dengan idola ku itu, menyukai apa yang digemari nya, menjadi apa yang seperti di inginkan nya agar sekedar dia menyadari keberadaan ku. Menguntit segala aktifitas nya melalui social media dan masih banyak hal lagi omong kosong yang kulakukan demi mendapatkan perhatian lebih dari nya. Tampak menyedihkan bukan?? Secuil pun Bang Suga tidak tau segala yang kulakukan ini adalah mutlak dari, untuk dan oleh dirinya. Aku yang tau, semua yang ku lakukan ini adalah hal yang sia-sia. Maka aku berusaha maju satu langkah, memberanikan diri, membulatkan tekad untuk mengakrabkan diri lebih intens, mangabaikan cibiran cibiran yang menganggap ku terlalu ganjen karena dengan percaya diri mendekati pemuda yang ketampanan nya terkenal seantero kampus. Hingga hasilnya , aku bisa mengenal lebih jauh abang Suga yang terkenal judes sejagat raya. Bang Suga memiliki sifat perhatian dibalik kepribadian nya yang apatis, tipe yang tidak pelit ilmu, tidak segan segan menceramahiku jika baginya aku terlihat kurang benar.banyak hal yang kulakukan dengan nya ketika aku mulai intens dengan nya, mulai dari chatingan tiap malam yang berakhir dengan ucapan good night, ngobrol berdua di gazebo, dan tak jarang dia selalu meminta ku untuk tetap tinggal sekedar menemani nya menyelesaikan tugas. Tidak bisa dipungkiri, kedekatan ku dengan nya mengundang asumsi bahwa aku dengan nya punya hubungan spesial. Aku sebenarnya cukup senang dengan hal ini walaupun sedikit menyesakan dada. karena bisa dibilang hubungan ku dengan nya adalah hubungan tanpa status. Aku tidak bisa leluasa terhadap nya, dia bukan milikku, aku tak memiliki hak atas dirinya, aku tak berhak marah ketika dia mengabaikan ku dan lebih mementingkan hal lain, aku tak berhak menuntut nya menjadi apa yang ku mau, lebih parah lagi aku tak bisa berbuat apa-apa ketika banyak gadis yang menggandrungi nya. Bang Suga mungkin menganggap ku sekedar saja, sehingga baginya tak ada problema berarti dalam diri ku. Dibalik itu semua, tanpa sepengetahuan nya aku menyimpan harapan lebih terhadap nya. dia yang terlalu mudah nya dikagumi, membuat nya banyak penggemar sana sini. Banyak gadis leluasa menghampiri, membuat aku selalu makan hati, aku ingin memiliki Bang Suga seutuh nya, memamerkan pada dunia bahwa malaikat maha rupawan itu benar benar ada yang dengan bangga nya adalah miliku seorang . Aku ingin egois tapi aku lemah, tak mampu mengubah rasa kagum ku menjadi sebuah kata "aku ingin memiliki mu" agar Bang Suga tau semuanya. Aku selalu benci dengan pola pemikiran stereotype yang memegang faham, lelaki lah yang mengawali, hal itu membuat ku tak berani mengumpulkan mental untuk sekedar menuai jalinan baru. Hingga berjalan nya waktu, aku menyadari Bang Suga tak sedikit pun memiliki niatan dan dorongan hati untuk sekedar mengambil langkah ke tahap yang lebih serius padaku, dia mungkin sudah nyaman dengan posisi nya saat ini. Menganggap ku sebagai junior favorite nya, tidak lebih. Aku yang semakin lelah menantikan penantian yang mungkin saja tak pernah tertuju pada ku berusaha mundur perlahan, menjauh dari Bang Suga lalu menghilang. Aku sadar mungkin selama ini aku dibutakan oleh pesona anggun nya, membuat ku selalu menatap ke atas dan melewatkan hal hal yang mungkin terlewat kan disekitar ku.
"ma... Kamu masih mengharapkan Bang Suga kan?" suara Tima menyadarkan ku dari lamunan . Aku menggeleng sambil menyibukkan diri membolak balik modul kuliah ku
" mata mu enggak bisa bohong lah"
Aku mendongak menatap wajah dari sahabat ku ini " ya terus aku harus gimana?" tutur ku tanda tanya
" ya jujur lah sama dia, utarain apa yang ada dihatimu, jangan pendam gini Ma, itu menyiksa"
" kalo respon nya jelek gimana?" aku mendengus lemah
" kok mikir nya gitu, itu kalah sebelum perang namanya"
Aku menggaruk kepala ku, entah kenapa, sejak aku memutuskan mundur dari Bang Suga, fikiran ku selalu rancu tiap kali aku membahas nya
" atau Move On Ma" sambung Tima , membuat ku menautkan dua alis ku" laki-laki bukan cuma dia aja kan? "
Aku mengangguk sambil memejamkan mata ku, aku malas saat ini untuk membahas laki-laki, aku ingin fokus dulu di pendidikan. Dan juga saat ini aku malas adu argumen dengan Tima, aku mengangguk sekedar mengakhiri obrolan. Aku berharap begitu, tapi sepertinya tak ada ciri ciri dari nya untuk berhenti berceloteh
" aku mulai berfikir, udah saat kamu notice Junaedi, kasian dia kan, dari dulu cinta mati sama km"
"aku risih sama flower boy macam dia" ujar ku, fikiran ku mengawan memikirkan Junaedi, yang dari sejak jadi mahasiswa baru sudah mengejar ku. Junaedi itu adik satu tingkat ku, dia orang Sulawesi, suku Tolaki kalo enggak salah. Orang nya ganteng, lebih cenderung cantik, mirip Jungkook pokoknya. Tapi entah lah aku sama sekali tidak pernah tertarik padanya. Bagiku Junaedi, terlalu menyia-nyiakan ketampanan, banyak cewek yang merebut kan dia, tapi dia tetep kekeh pada prinsipnya, akan jomblo selama nya kecuali aku berpacaran dengan nya.
" kasian si Njun.. Ma" Tima mengerucutkan bibirnya
"ya kalo kasian, kamu pacaran dah sama dia" timpal ku
"dih... Aku bang Kai polepel" Tima menjulurkan lidah nya ke arah ku, aku terkekeh, tak bisa ku pungkiri, sericuh apapun tingkah Tima padaku, tetap dia satu-satunya orang yang membuat ku tersenyum sekedar melepaskan beban pikiran ku.
"aku kenalin sama senior ku di pertambangan apa yah"
Aku terperanjat usai mendengar penuturan Tima " ogah ah. Anak pertambangan tuh ya, keras rahang semua" sontak Tima menghantam kepala ku dengan modul kuliah ku yang setebal 25 inci, aku meringis, mengaduh, pukulan nya hampir menggoyangkan otak ku di dalam, jangan main main, walaupun Tima anaknya ganjen, tapi dia atlet beladiri profesional.
" Bang Cahyo" Tima menimang nimang dagu nya, mengabaikan aku yang memijat kepala pening ku akibat pukulan nya, expressi santai nya seakan pukulan itu bukan berasal dari nya
" bang Cahyo Purnomo ya... Ma" aju Tima minta pendapat " dia cowok ganteng nya pertambangan, jomblo pula"
Aku memutar bola mata ku jengah " klo ada cowok ganteng di fakultas mu ngapain kamu jauh kesini huh?"
"ye... Kan aku dah bilang, All because My Abang Kai jongin,,, , ya aku kenalin ya sama Bang Cahyo "
" aku di sini kesan nya, kaya lagi membutuhkan laki laki banget ya, kaya haus kasih sayang, seakan aku enggak bisa apa apa tanpa laki-laki, hell yah... Menyedihkan "
" suram banget pemikiran mu sih" protes Tima akan opini ku " aku lakukain ini demi kamu Ma, aku enggak mau kau terjerat di masa lalu,mengharapkan hal hal mustahil. kamu harus Move On, aku sayang kamu Ma"
Aku tersenyum, ku rangkul pundak sahabat ku itu " I'm OK kok. Cukup adanya km disamping aku, aku bisa memandang masa depan".

.....................................................................................................................................................................

No comments:

Post a Comment

James Arthur - Cars Outside

I'm packin' my bags that I didn't unpack the last time Ku kemas tasku yang tidak ku bongkar saat itu  I'm sayin', "...